Bawaslu Kota Cirebon Apresiasi Peringatan 25 Tahun Yayasan Fahmina
|
CIREBON — Bawaslu Kota Cirebon menyampaikan apresiasi atas peringatan 25 tahun berdirinya Yayasan Fahmina yang digelar pada Selasa (25/11/2015) di Aula ISIF Cirebon. Acara tersebut dihadiri oleh Anggota Bawaslu Kota Cirebon, Mohamad Joharudin, M.Pd. Perayaan ini menjadi momen penting untuk merefleksikan perjalanan Fahmina selama 25 tahun dalam bidang sosial, keagamaan, demokrasi, serta pemberdayaan kelompok rentan di Indonesia. Menurut laporan Ketua Panitia, Zainal Abidin, panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan dan para pendukung, termasuk tokoh pembina serta pimpinan Fahmina. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Ketua Pembina KH Hussein Muhammad, Ketua Yayasan Fahmina KH Marzuki Rais, dan Rektor ISIF Cirebon KH Marzuki Wahid. Sebagai penghormatan kepada para pendiri Fahmina, acara diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah secara bersama untuk mengenang Prof. Dr. KH Chozin Nasuha dan Prof. Dr. Affandi Mochtar (alm).
Gerakan dari Suara yang Terpinggirkan
Dalam suasana reflektif menyambut perjalanan seperempat abad Fahmina, panitia menegaskan bahwa gerakan sosial Fahmina lahir dari kepedulian terhadap “suara yang terpinggirkan”—mereka yang selama ini kurang mendapatkan perhatian, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Kehadiran para penyandang disabilitas dalam acara ini menjadi simbol nyata dari komitmen Fahmina untuk menjunjung tinggi inklusivitas dan keberpihakan.
Peluncuran Buku “Seperempat Abad Fahmina”
Dalam peringatan ini juga dilakukan soft launching buku berjudul “Seperempat Abad Fahmina” yang mengabadikan perjalanan panjang lembaga dalam menguatkan masyarakat sipil di berbagai daerah di Indonesia.Ketua Yayasan Fahmina, KH Marzuki Rais, mengungkapkan bahwa selama 25 tahun Fahmina telah menjalankan peran penting dalam skala lokal, nasional, dan internasional. Fahmina bermula dari sebuah ruang kecil di Pangeran Drajat, tempat para pendiri berdiskusi tentang berbagai persoalan sosial, termasuk diskriminasi agama, ketidakadilan gender, dan isu kemasyarakatan lainnya.
Tiga Fokus Utama Fahmina
KH Marzuki Rais menegaskan bahwa sejak awal Fahmina fokus pada tiga isu utama:
- Islam dan Gender;
- Islam dan Demokrasi; dan
- Islam dan Komunitas.
Ketiga isu ini menjadi landasan intelektual Fahmina dalam mengembangkan tradisi berpikir kritis dan aksi sosial untuk membela kelompok-kelompok rentan. Selain kajian akademis, Fahmina juga melakukan advokasi langsung kepada masyarakat, seperti kelompok nelayan, sopir, pekerja informal, dan kelompok marjinal lainnya. Dalam bidang pendidikan publik, Fahmina kini mengembangkan program SAK (Sekolah Agama dan Kepercayaan), sebuah metode pembelajaran lintas agama yang menghadirkan peserta pada ruang-ruang religius dan mempertemukan mereka dengan berbagai tokoh agama. Program ini juga menguatkan penghayatan tentang hubungan manusia dengan alam dan sesama. Fahmina pernah memperoleh penghargaan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat pada tahun 2006 atas kerja advokasinya bagi buruh migran Indonesia. “Apa yang telah kita raih hari ini adalah prestasi bersama,” ujar KH Marzuki Rais menutup sambutannya.
Dukungan dan Komitmen Bawaslu Kota Cirebon
Mohamad Joharudin, M.Pd dari Bawaslu Kota Cirebon menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi Fahmina dalam penguatan demokrasi dan advokasi bagi kelompok rentan. Ia menegaskan bahwa nilai inklusivitas, keberanian menyuarakan keadilan, dan konsistensi dalam advokasi sosial sangat sejalan dengan visi Bawaslu untuk mendorong pengawasan partisipatif dan pendidikan politik kepada masyarakat. Bawaslu Kota Cirebon berkomitmen untuk terus mendukung ruang-ruang pendidikan publik seperti ini sebagai bagian dari upaya memperkuat demokrasi yang lebih bermartabat, humanis, dan berkeadilan.